Sejujurnya sudah 14 kali aku
mengajaknya berkencan. Dan ya...memang semuanya ditolak mentah-mentah olehnya.
Entah kenapa tetap saja aku ingin mengajaknya terus. Sebenarnya aku berniat
mengajaknya sampai benar-benar aku putus asa. Semua usahaku dari sms sampai
mengunjungi rumahnya,semua sia-sia.”Udahlah Dev,gak usah
dipaksa...kasihan juga dianya..” saran temanku. “Gak...” jawabku sambil
menutup telfon genggamku yang tadinya terhubung dengan temanku. Sebenarnya
jarang sekali aku berdebat dengan temanku ini. Karena sudah 2 tahun kami satu
kelas. Ya tentunya dengan Shania juga........
Heran...Itulah
yang ada didalam benakku saat aku melihat Shania tiba-tiba murung. Sesekali aku
mencuri pandang ke arahnya. Tidak jarang air matanya jatuh menuruni pipi lembut
dan putih itu. “Kenapa Shania yah..” gumamku kecil. Akhirnya aku memberanikan
diri untuk menghampirinya. “Hai,Shan...Kamu kenap...” tak sempat aku
menyelesaikan kalimatku,seketika dia memelukku. Tampaknya dia tengah menghadapi
masalah. “Udah..udah..kamu duduk dulu...tenangin diri kamu dulu” responku
sambil mengantarnya kembali duduk. “Kamu kenapa Shan?Cerita aja sama aku..”
kataku sambil mengambil kursi yang ada di sampingku untuk aku duduk. “ Aku mau
pindah..” jawabnya sambil meneteskan air mata. “Pindah?Pindah rumah maksud
kamu?” tanyaku dengan santai meskipun gelisah langsung menghampiriku. “Iya..”
jawabnya dengan suara yang kecil. Tangisannya sudah mulai hilang. Sepertinya
Shania sudah mulai tenang.
“Yah ampun
Shan...kamu kan cuma pindah rumah,lagian juga palingan gak jauh-jauh amat
kan ?” aku kembali bertanya.
“Gak...Kamu salah dev..aku mau ke Jepang..Papa aku akan bertugas
disana...jadi terpaksa kami sekeluarga ikut dia...” jawabnya dengan setetes air
mata yang kembali turun.
Dan tidak hanya setetes,sepertinya
dia kembali menangis. “Serius? Kok mendadak banget sih Shan?”
tanyaku dengan herannya. Kegelisahanku semakin menjadi-jadi. “Emang
kapan papa kamu kasih tau ke kamu?” lanjutku. “Semalam,dev..” jawabnya. “dev,kita
mungkin kan gak bakal ketemu lagi...aku mau...” tiba-tiba guru yang akan
mengajar datang. Dengan cepat Shania langsung menutup mulutnya dan membiarkan
kata-kata tadi yang akan diucapkan tetap terkunci dalam benaknya. “Kenapa
Shan?” tanyaku dengan berbisik. “Gak jadi..” jawabnya. Sial sekali
nasibku. Baru pagi-pagi aku sudah gundah seperti ini karena Shania akan
pindah.Ditambah lagi kalimat yang tidak terucapkan darinya.
Setelah guru tadi selesai mengajar aku bergegas menghampiri Shania kembali.
Sayang,dia sedang dalam obrolan lewat HPnya entah dengan siapa. Aku menunggu
didekat papan tulis sembari melihat keluar kelas. Banyak kakak kelas yang tidak
lama telah lulus lewat depan kelas kami untuk mengambil ijazah mereka. Sesekali
aku mengalihkan pandanganku ke arah Shania. Dan ternyata dia telah selesai
menelfon. “Tadi siapa Shan? Hehehehe...Kepo dikit gak apa-apa
kan?” tanyaku sambil bercanda. “Hahaha..kepo ih...” ledeknya sambil
tersenyum. Seketika matanya hilang dan yang kulihat dihadapanku hanyalah gadis
cantik ini. Tak bisa aku mengalihkan pandanganku. “Heh!Ngeliatin apa
sih?Bengong yah? Hihihi...” seru Shania. “Sok tau deh kamu..Eh,kamu
belum jawab pertanyaanku tadi yah..” jawabku sambil membenarkan kerah
seragamku. Tiba-tiba saja Shania mengalihkan pandangannya dariku. “Oh...itu
tadi....” tiba-tiba ia berhenti berbicara.”Tadi siapa?”aku terus menanyakan hal
itu.Karena sungguh,tidak bisa dihindari rasa ingin tahu ini. “Tadi cuma mama
aku kok..” jawabnya. Namun aku tahu,bahwa dia tidak mengatakan hal yang sejujurnya.
“Beneran?” aku kembali bertanya. “Iyaa...gak percayaan amat
sih..” ucapnya sambil memasukan HPnya kedalam kantongnya. “Oh...iya aku
percaya...gak usah marah dong..ntar cantiknya hilang
loh..” ledekku. Kembali,guru yang lain masuk ke dalam ruangan kelas. Ternyata
guru itu datang tidak untuk mengajar kami. Melainkan,mengabarkan bahwa hari ini
seluruh murid dipulangkan lebih cepat karena ada rapat guru. Pikirku,ini
merupakan waktu yang tepat untuk mengajak Shania jalan-jalan. “Shan,kita kan
pulang cepat nih...ada rencana keluar gak?”tanyaku sambil harap-harap
cemas kalau Shania mau berjalan berdua bersamaku. “Hmmm...Mau tau banget apa
mau tau aja?” ledeknya. “Ih...serius,Nju..” ucapku sambil tersenyum. “Gak
ada sih..emang kenapa? Mau ngajak jalan lagi yah?” Shania langsung
berkata to the point. Sial,ternyata niatanku sudah terbaca duluan oleh
Shania. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa.
“Woy!!”
“Iya,Shan...Mau gak?” kataku.
“Hmm...kebetulan aku lagi bosen
banget nih...ya udah deh ayo!”jawabnya sambil tersenyum.
Apakah ini hanya mimpi
belakaku coba sesekali menggigit lidahku secara diam-diam untuk membuktikan
bahwa ini mimpi atau bukan. “Aww...”seru ku sambil menahan sakit. “Kamu kenapa,dev?”
tanya Shania. “Oh,gak apa-apa kok..Cuma gak sengaja gigit lidah
aja...Hehehe” ucapku sambil tertawa. “Ya udah...ayo mau kemana nih?”tanya
Shania. Shania terlihat senang mengetahui aku mengajaknya pergi berdua. “Kamu
maunya kemana,Shan?” tanyaku balik. “Loh,kok malah tanya balik?Kan kamu
yang ngajak aku pergi..” sahut Shania. Salah.Aku salah. Bertanya seperti
itu hanya membuatnya kembali tidak mood.
“Yaa...kan aku jalannya sama orang
yang special...jadi aku harus tahu kamu maunya kemana...biar kamu
senang,Shan..” aku mencoba mengakali kesalahan yang telah aku buat.
“Ya
udah...kita ke kafe aja yuk..yang deket taman itu loh...tahu kan kamu?”
ucap Shania. “Oh itu,oke deh...apa sih yang gak buat kamu?” ledekku
sambil tersenyum. “Tapi kita naik sepeda gak apa-apa kan?” tanyaku.
“Naik sepeda??” Shania terkejut. “Wah,apakah Shania tidak mau pergi dengan
menaiki sepeda..” pikirku. “Iya..kenapa Shan?Gak mau yah?” ucapku. “Ih..ngaco
deh kamu..justru aku mau banget...” jawabnya. “Justru aku kangen banget
naik sepeda...kayaknya damai gitu kalau naik sepeda..dan itu juga kan bisa
mengurangi global warming” lanjutnya. “Hehehe...iya sih..tapi mana
mungkin ngaruh kalau cuma satu orang yang naik sepeda..” jawabku. “Kan
kita berdua..” ucap Shania. Benar-benar tidak bisa terucapkan kedalam kata-kata
apa yang tengah aku rasakan.
“Ya udah ayo,dev!”ajak Shania sambil
menarik tanganku.
“Siap?” tanyaku.
“Siap,Pak!” jawabnya.
“Oke,1...2...3...!!” begitu
kehitungan ketiga,aku mulai menggoes pedal sepedaku. Sangat berbeda.
Ya,rasanya sungguh sepi kalau hanya
bersepeda sendiri saat aku dalam perjalanan sekolah. “Kamu kalau ke sekolah
naik sepeda yah?” tiba-tiba Shania memulai pembicaraan. “Iya,Shan..Udah dari
kelas 1 malah..” ucapku. “Kemana aja sih kamu?” lanjutku sambil berpura-pura ngambek.
“Yaa...maaf deh..kalau aku kurang perhatian sama kamu..” jawab Shania. “Eh
tapi..emang kamu butuh perhatian dari aku?” candanya. Lagi,aku
berkonflik antara batinku. Apakah aku harus menahan rasa sayang ini?Atau aku
harus mengatakannya? “Ehmmm...mau tahu banget apa mau tahu aja?” aku
berusaha menghindar dari menjawab jawaban itu. “Ih..kamu mah..” Ah...Shania
mulai mengeluarkan muka unmood lagi. Mau tidak mau aku harus
menjawabnya. “Yaudah deh aku jawab...” sahutku sambil menghentikan sepedaku.
“Loh kok kita berhenti?Kan belum nyampe..” tanya Shania.
“Kamu mau
aku jawab pertanyaan kamu kan,Shan?”
“Iya,sih...tapi
buat apa kita berhenti?”
Sebenarnya aku tidak mau
mengatakannya sekarang. Tetapi,aku tidak tahan melihat muka unmood
Shania. “Iya,Shan..”jawabku sambil menatap matanya. “Iya apa?” ucap Shania.
“Iya,aku butuh perhatian kamu” aku mengucapkan hal yang paling memalukkan.
Tapi,kata-kata itu keluar begitu saja,tanpa bisa aku tahan. “Oh...Ah palingan
kamu cuman bercanda kan?” kata Shania dengan tertawa kecil. “Serius,Shan..”
Tiba-tiba Shania terdiam. Mukanya tersipu malu. “Shan,kamu gak apa-apa
kan?” aku melihat mukanya tanpa henti. “Iya..yaudah aku udah gak penasaran
lagi kok...ayo jalan lagi..” Shania mengajak untuk kembali berjalan.
Lalu,tidak ada respon apa-apa darinya?Hanya tanggapan flat saja yang ia
berikan?
Setiba di kafe dekat taman,aku langsung mencari tempat untuk memparkir
sepedaku. “Taro dimana yah?” ucapku sambil kebingungan. Yah...berhubung
lebih banyak pengunjung yang menggunakan kendaraan bermesin,tempat parkir untuk
sepeda tidak dibuat. “Iya yah...diparkir di mana yah?” kata Shania. “Loh,malah
balik nanya...Hahahaha” ucapku. “Udahlah,diparkir di depan kafenya aja.”
Lanjutku sambil menuntun sepedaku menuju tempat kosong di depan kafe.
“Mbak,saya taro di sini boleh?” tanyaku pada salah satu pegawai kafe
itu. Kebetulan kafe itu adalah kafe terbuka,jadi tidak mengganggu orang yang
ingin ke kafe. “Ya udah mas,boleh..” jawab pegawai itu. “Nah masalah parkir
udah nih,tinggal makan nih...” kata Shania sambil menuju tempat duduk yang
kosong. “Giliran makanan aja,cepet...Hahaha” ucapku sambil berjalan
menuju tempat duduk yang ditempati Shania. “Mbak...Menunya dong...” Shania
mengangkat tangannya untuk meminta daftar menu. Begitu menunya tiba,aku sangat
terkejut. Bagaimana tidak. Aku membayangkan bahwa daftar menunya akan seperti
restoran lainnya. Ya,menu yang tebal dengan daftar makanan dan minuman yang
banyak. Tetapi,perkiraanku salah. Menunya hanyalah selembar kertas yang
dilaminating. “Mungkin dibaliknya masih ada..”pikirku dalam hati. “Ini apaan?Menu
kok selembar terus cuma satu halaman lagi...gak ada dibaliknya lagi”
ucapku kesal di dalam hati. Jenis makanan yang dijual hanya 4 jenis. Yaitu: Mie
Goreng,Bakso,Mie Kuah,dan Batagor. Jujur,aku akui, minumannya memang sedikit
lebih banyak daripada jenis makanannya. “Kamu jadinya mau mesen apa,dev?”
tanya Shania. “Hmmm...Aku mesen Bakso sama Jus Jeruknya deh..” jawabku.
“Ih..kok bisa samaan sih? Aku juga mau pesen itu tahu...Hahahaha”
“Kita sehati kali,Shan...”
“Apa sih....”
Lagi,dia tidak merespon ungkapan
kata dariku dengan positif. “Bercanda kok,dev...Hahahaha...Jangan marah...”
lanjutnya. Ketika pelayan kafe menghampiri kita,Shania langsung memesan makanan
yang akan kami makan. “Gimana?” tiba-tiba Shania bertanya. “Gimana apanya?” aku
bertanya balik. “Yaa...gimana?kamu suka gak sama tempatnya? Aku tuh suka
kesini kalau lagi unmood...” jelasnya. “Oh...suka kok..enak sejuk
Shan...hehehe...” kebetulan saat ini langit sedang mendukung suasana.
“Shan,kamu
lihat langit mentari senja itu gak?”
“Lihat
kok..Bagus yah...” ucap Shania
“Iya
Shan..indah...kayak mata kamu...”
“Ngerayu
terus yah...hahahaha” sahut Shania.
Setiba makanan yang kami
pesan,Shania seketika fokus kepada makanan. “Itadakimasu...” Shania
mengucapkan selamat makan dalam bahasa Jepang. “Tahu deh yang mahir sama bahasa
Jepang..” ledekku. Tapi Shania tidak menggubris perkataanku. Ya,lebih baik aku
menghabiskan makanan ini dulu. Baru aku mengobrol lagi dengannya.
“Ah...kenyang...”ucap Shania sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. “Enak
juga yah...” sahutku. “Iya dong,siapa dulu yang pilih tempat?Shania...”
jawabnya sambil tersenyum. “Iya deh...”
“Shan,kamu
lucu deh kalau lagi senyum...matanya ilang...hehehe...” ucapku sambil
tertawa kecil. “Iiihh jahat...hahaha...” jawabnya. “Biarpun ilang
matanya,tapi kamu suka kan?” lanjutnya. Shania memang jago dalam hal
menjebak perasaanku. “Iya sih...”jawabku sambil tersenyum. Mukanya Shania
kembali merah tersipu malu. “Yaudah yuk kita pulang...udah sore banget
nih..” ajak Shania. Aku tahu bahwa dia hanya mengalihkan pembicaraan.
“Iya...tunggu yah aku bayar dulu...”begitu aku selesai di kasir,aku bergegas ke
tempat aku memarkir sepedaku. “dev,mau ke taman dulu gak?” Shania
mengajakku ke taman. “Katanya mau pulang?” aku bertanya pada Shania. “Yaudah
kalau gak mau..” jawabnya sambil berjalan pergi. “Iya iya...Aku
mau...jangan ngambekkan sih Shan..” ucapku sambil menarik
tangannya.”Hehehehe....” Shania kembali tersenyum. “Duduk di situ yuk!Di bawah
pohon itu...” ajaknya. “Ayo..”sahutku sambil berjalan mengejar Shania.
“Wah kayak di Anime-anime
yah...cowok sama cewek duduk berduaan di bawah pohon...seperti pacaran...” ucap
Shania.
“Hahaha...iya Shan...” jawabku.
Baru kali ini. Ya,aku merasakan arti
kebahagiaan yang sebenarnya. Kami benar-benar menikmati waktu santai ini. Kami
terus duduk di bawah pohon ini sambil menatap langit. “Ini kado ulang tahun
paling indah dan spesial dari orang yang pernah orang-orang kasih...”tiba-tiba
berbicara. Alangkah bodohnya. Aku melupakan hari ini bahwa Shania berulang
tahun. “Oh iya aku lupa...Otanjoubi omedetou gozaimasu...maaf yah
aku telat ucapinnya..” aku benar-benar merasa bersalah. “Kamu ngomong
apa sih? Kamu aja udah kasih kado terindah buat aku..gak usah minta maaf
lagi kali...”jawab Shania. “Oh,iya ini kan ulang tahun aku yang ke-15,dan bebarengan
sama ajakan jalan kamu yang ke-15,ya kan?”lanjutnya. Aku terkejut bahwa
tahu ini adalaha kali ke-15 aku mengajaknya pergi berdua. “Ini angka 15
yang paling spesial...apalagi kalau bisa punya orang spesial kayak
kamu...hehehe” ucapnya sambil tertawa. “Apa Shan?” sahutku. “Gaaakkk...dah
yuk pulang...udah sore nih..kali ini beneran pulang..” jawabnya sambil
bangkit berdiri. “Shan,boleh nanya gak?” aku ingin menghilangkan rasa
penasaran ini.”Nanya apa?” ungkapnya. “Maaf yah kalau kebanyakan..pertama,kamu
jadi pindah gak? Kedua,yang nelfon kamu pas di sekolah
siapa?” ucapku. “Oh itu...tadi tuh yang nelfon mama aku...mama aku ngabarin
kalau aku gak jadi pindah...” jawabnya dengan senangnya. “Serius? Bagus
dong...” hari ini memang hari yang spesial.
“Udah itu doang?” tanya Shania
“Yang ketiga,kamu mau gak jadi orang yang spesial buat aku?” aku
langsung berkata to the point.
“Kalo itu...gak tahu deh...”jawabnya sambil berjalan menuju sepedaku.
***SELESAI***

0 comments:
Post a Comment
No SARA dan dilarang saling menjatuhkan, hargai karya orang lain.