dewaardianata.blogspot.com

Thursday, 19 March 2015

00:58 | by Dev_Shoot | Categories: , | No comments
created by : @deva_awed
teru-teru bozu dewaardianata.bolgspot.com

Mungkin nggak, sih, boneka botak berselimut kain putih itu mampu menangkal hujan? Atau, apa ia bisa menangkal sakit hati yang gue rasakan?
“Ehem..” Pemuda bernama Ryan Alvero tersebut berdehem pelan. Sorot matanya fokus pada novel yang sedari tadi ia jadikan sebagai hiburan kecil.
-Nidya Helga- yang berada di samping Ryan memasang wajah datar, “Loe gak bosan?”
“Enggak,”
“Serius?”
“Loe kenapa, sih? Nanya mulu. Loe gak lihat gue lagi konsen?” jengkel Vero mendengar pertanyaan Nidya yang aneh baginya.
“Sorry, bro. Gue cuma sebal aja sama kondisi seperti ini.” ucap Nidya berterus terang.
Vero mengangkat sebelah alisnya,
“Jadi loe mau apa? Gue bakal turutin kemauan loe, asal gak ngerugiin gue.”
“Jalan, yuk. Loe mau, kan, nemenin gue seharian.” Nidya menaik-turunkan alisnya dan mengubah ekspesi wajahnya menjadi memelas.
Ryan menyimpan novel barunya ke dalam ransel hitam. “Loe aneh, ya. Loe ngajak gue jalan-jalan di tengah hujan, mau basah kuyup?”
“Itu udah jadi kebiasaan gue.” kedua mata Nidya menerawang ke depan. “gue suka bermain hujan. Suka tetesan air yang jatuh mengenai permukaan di sekitarnya.”
Suasana memberi jeda.
“Semua tentang hujan loe suka?” ulang Ryan lagi. Seperti ada yang mengganjal atau salah dari ucapan Nidya tadi.
Nidya mengangguk mantap, “Yaps! Memangnya kenapa? Oh, gue tahu. Pasti loe suka juga, kan? Hayo ngaku..” bidiknya.
“Gue suka? Jangan kira, ya. Gue malah benci sama hujan!” jujur pemuda di hadapan Nidya saat ini. Nidya mengerutkan dahinya.
“Ada alasannya?”
“Memangnya gue harus ngasih tahu elo?”
“Enggak, sih. Cuman heran aja.” ujar Nidya. “Ada orang yang benci sama suasana yang bikin hidup mereka itu tenang, teduh, ataupun nyaman.”
Ryan terdiam. Sebenarnya ia tidak benci, tapi hanya tidak suka. Bahkan, rasa senang yang terencana di hari sempurnanya bisa saja luntur karena hujan.
Ada apa dengan hujan, Ryan? Apakah ada sesuatu yang terselip secara bersamaan di antara datangnya rintik hujan?
Atau-
“Udah, ah. Kok bahas hujan, sih. Katanya mau jalan-jalan.” Ryan membuyarkan lamunan Nidya. Nidya tersadar kemudian tersenyum ke arahnya.
“Gue kira loe nggak mau.” Nidya menyenggol lengan Ryan pelan.
Ryan terkekeh, “Gue itu orangnya enggak konsisten. Kadang mau ini, kadang mau itu.”
“Hahaha, bilang aja labil, susah banget ngakuinnya.”
Sambil menikmati deru angin, mereka berjalan di sekitar pinggir toko yang berjajar rapi. Lampu-lampu yang terpasang di toko, mulai menerangi sudut kota yang telah ramai di waktu malam.
Nidya sesekali melihat Ryan. Kedua matanya menangkap penampilan salah satu teman lelakinya ini. Kemeja merah bermotif kotak-kotak berpadu dengan celana jeans panjang di bawahnya. Membuat Ryan terlihat lebih tampan.
Langkah mereka terhenti di depan salah satu toko. Toko tersebut memang sudah tutup, namun ada yang menarik hati mereka untuk melihat sejenak objek yang terpajang di depan pintu toko. Sebuah boneka sederhana yang dihiasi senyum tipis di wajahnya.
“Kayaknya gue pernah lihat bentuk boneka seperti itu.” ucap Nidya. Matanya fokus tertuju pada boneka yang digantung tersebut.
“Pernah dengar nama boneka Teru-Teru Bozu?” Ryan bertanya. Nidya menggeleng cepat.
“Teru-Teru Bozu adalah boneka tradisional Jepang, salah satunya itu.” lanjut Ryan dengan menjelaskannya secara singkat.
“Lalu?”
“Konon, boneka itu mampu menangkal hujan.”
“Maksud loe, bikin cuaca cerah gitu?”
Ryan mengangguk pelan, “Cuma mitos, sih.”
“Ah, gue enggak percaya!” tukas Nidya tidak mempercayai benar adanya mitos itu.
“Namanya juga mitos. Benar atau tidak, itu masih belum dapat kita ketahui.”
Nidya dan Ryan melanjutkan acara jalan-jalan mereka yang sempat terhenti. Malam semakin larut dan suasana kota Jakarta semakin ramai. Angin tanpa henti berhembus. Rintik hujan terus mengguyur.
DEGG~
Jantung Ryan seakan berhenti berdetak. Bibirnya bergetar melihat pemandangan yang membuatnya tercengang. Rasa sakit di hatinya menggerogoti seluruh tubuh lelaki ini.
Seorang gadis -yang dicintainya selama ini- tengah bersama dengan lelaki lain di kafe. Gadis itu bernama Oliv. Sedangkan lelaki di sebelahnya begitu asing di mata Ryan.
“Liv, loe janji, kan, mau ketemu gue. Tapi kenapa? Kenapa elo se-”
Ryan tidak mampu menahan kesedihan yang bergejolak. Rasa sesaknya menusuk pelan dadanya. Air matanya bersamaan dengan jatuhnya rintik hujan.
“Kalau emang loe lebih bahagia dengan dia, gue terima. Gue pasrah dan akan mengusir diri loe dari kehidupan gue. Ternyata, elo cuma bisa bikin gue seperti ini. Sedih, sendiri, murung. ARGHT!!”
Tangan kanannya mulai mengepal keras. Ia berbalik pulang ke apatermen dengan tangan kosong dan hati hampa. Miris~
Kedua matanya mendongak ke atas langit. Langit mendung abu-abu membawa terpaan angin yang menyelubungi pakaiannya. “Padahal gue udah memasang boneka itu. Tapi ternyata gak mujur. Hmm.. Gue hari ini sial atau emang jadi anak sial?”
“Ayo Nidya. Loe pasti bisa! Loe pasti bisa!” Gumaman pelan terucap dari bibir gadis ini. Nidya terlihat gelisah karena menunggu seseorang. Nidya mondar-mandir dengan hatinya yang berdegup kencang.
“Nidya?”
Nidya menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Ia menyunggingkan senyuman. Orang yang ia tunggu akhirnya datang juga.
“Ehm- Ha- Hay Ibel.” dengan suara terbata-bata, Nidya menyapa lelaki bernama Ibel.
Ibel menghampiri Nidya, “Eh, ada elo. Tumben ke sini, ada apa?”
“Ehm, aduh gu.. gue grogi bilangnya.” Nidya meremas kedua tangannya.
Ibel mengangkat sebelah alisnya, “Gimana kalau kita mengobrolnya di dalam saja. Di luar hujan, nanti loe masuk angin.”
Ibel memegang handle pintu dan membukanya. Nidya lagi-lagi tersenyum dan masuk ke dalam rumah Ibel.
Sama seperti kunjungan ke sekian kalinya, suasana di rumah ini sepi tidak berpenghuni. Berdinding warna kuning krim yang mulai mengusam.
Dari hal yang Nidya ketahui mengenai Ibel, ia ke Jakarta hanya sendiri untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang kuliah. Sehingga, Ibel terpaksa menyewa rumah sederhana ini sebagai tempat tinggalnya sementara.
Ibel mempersilahkan Nidya duduk di sofa, lalu menuju ke dapur yang hanya dibatasi dinding dari ruang tamu. Nidya sesekali mengetuk-ngetuk jarinya sekedar menghilangkan rasa gugup.
“Loe sendiri ke sini?” tiba-tiba Ibel datang membawa nampan berisi dua gelas coklat hangat.
Nidya mengangguk. Ia berusaha untuk tenang, “Gue mau ngomong sesuatu ke elo.”
“Ngomong tentang apa, nih? Kayaknya serius banget.” Ibel duduk di samping Nidya.
“Gu.. Gue.. Ehm.. Gue..”
“Loe kayak orang kesetrum gitu. Cepetan, ah, ngomongnya.” Ibel menyeruput minumannya.
Nidya menghembuskan nafas panjang. Berusaha rileks dan tenang. Dipandangnya wajah tampan Ibel, lelaki yang sangat ia cintai.
“Bel, gue cinta sama elo.”
PRANGG
Gelas kaca itu jatuh dan pecah mengenai permukaan lantai. Coklat hangat lezat itu tumpah percuma. Dari wajah Ibel, Nidya dapat menangkap kekagetan yang terlihat. Suasana kembali menghentikan waktu.
Ibel lalu duduk berjongkok untuk membersihkan dan memunguti pecahan kaca yang berserakan. Nidya menundukkan wajahnya. Ibel tiba-tiba bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seperti “Maaf,” atau “Biar gue yang beresin.”
Apa ada yang salah dari pernyataan dari isi hati gadis ini?
“Bel,”
Bibir Nidya bergetar memanggil nama itu. Nidya mulai memberanikan dirinya menatap Ibel. Ia tahan tangisnya. Ia simpan rasa malunya. Ia siap mendengar respon dari Ibel.
“Loe dengar, kan, apa yang gue ucap tadi?”
Ibel terdiam sejenak dan perlahan berucap, “Gue dengar, kok.”
“Lalu, kenapa elo diam? Apa gue salah untuk jujur tentang hal ini ke elo?”
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
“Jawab Ibel, please.” suara Nidya berubah menjadi parau. Air mata Nidya membasahi pipi mulusnya. Entah, mengapa gadis cantik ini menangis. Yang pasti, Ibel harus segera menghentikannya sebelum Nidya berbuat yang macam-macam.
“Eh, loe kok nangis?” tanpa ragu, Ibel menghapus cairan bening yang mengalir deras seiring dengan derasnya hujan di luar sana.
“Loe mau terima gue jadi pacar elo?”
Dag-Dig-Dug. Dag-Dig-Dug
Jantung Ibel memompa dengan sangat cepat. Baginya, pertanyaan itu menjebak dan mengelilingi pikirannya saat ini. “Gi- Gini, Nid.”
“Loe hanya perlu jawab iya atau tidak. Gue bakal terima apapun itu.”
“Sebelumnya gue mau ngucapin maaf banget buat elo. Sebenarnya, gue gak bisa.”
JLEBB
Bagaikan disambar petir, kedua kakinya seketika melemas. Senyum manis yang selalu ia tampilkan seakan luntur.
“Gue gak bisa nerima loe karena satu hal. Selesai gue lulus, gue bakal dijodohin sama cewek lain pilihan orangtua gue.”
Nidya tercekat mendengar penjelasan dari Ibel. Dijodohin? Cewek lain? Maksudnya?
“Awalnya, gue nolak. Tapi, gue enggak tega ngelihat nyokap dan bokap untuk memaksa gue. Jadinya-”
“Intinya, loe nolak gue, kan?” senyum Nidya terlukis. Tapi, ini bukan senyuman khas yang biasa ia sunggingkan. Bukan senyum bahagia.
“Tapi, asal elo tahu.” ucap Ibel. “Jujur, gue juga punya perasaan yang sama dengan loe. Perasaan cinta atau semacamnya. Gue merasakan itu, Nid.”
Nidya menghirup udara dingin dan menghembuskannya kembali. Namun, ia cukup lega. Perasaan yang mengutuknya tiap hati akhirnya lepas bagaikan burung merpati yang terbang di langit. Huft..
“Makasih, ya.” Nidya beranjak meninggalkan rumah sederhana itu. Segelas coklat hangat beralih menjadi coklat dingin. Sama dengan dirinya saat ini.
“Kita masih jadi teman, kan? Maksud gue, kita akan terus sama-sama lagi seperti dulu, bukan?” suara samar Ibel dijawab dengan anggukan kecil dari Nidya.
CEKLES
Pintu berbahan dasar kayu itu tertutup rapat. Mengakhiri dialog Nidya-Ibel.
Angin tanpa permisi meraba halus kulit lelaki berbadan tegap yang berdiri kaku dengan pandangan kosong.
“Maafin gue. Gue enggak bermaksud nyakitin elo, Nid. Jalan kita emang berbeda. Takdir memisahkan kita untuk bersatu.”
6 bulan kemudian..
Gadis bermantel putih dan tidak lupa memakai syal, kini tengah berdiri seraya memandang boneka botak itu.
“Hay, boneka Teru-Teru Bozu. Apa kabar? Apakah kau tidak bosan digantung hanya untuk mengusir tetesan hujan? Haha, sayangnya keberuntungan tidak berpihak ke kamu, ya. Musim hujan masih tetap bertahan di Jakarta.”
Senyum gadis ini -Nidya- mengembang. “Tapi kamu berhasil membuat aku jadi suka sama kamu. Nanti aku bakal bikin boneka berwujud sama seperti kamu. Aku ingin sekali hari esok cerah.”
Nidya merindukan sang matahari menyapa paginya. Rindu akan sinarnya yang membuat semangat. Mungkin saja, berkat Teru-Teru Bozu, kerinduannya akan lepas di esok hari. Mungkin saja~
Nidya melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam 10.30 WIB. Ia teringat bahwa ada janji pada seseorang untuk bertemu. Ryan namanya.
“Aku pamit dulu, ya. Aku ada janji dengan orang menyebalkan itu. Oke, bye!”

0 comments:

Post a Comment

No SARA dan dilarang saling menjatuhkan, hargai karya orang lain.