created by : @deva_awed
Sulit dipercaya…
Aku menatap lukisan itu lekat-lekat, nyaris tanpa berkedip dan bernapas. Warna-warni kontras cat minyak pada kanvas memberikan bentuk dari objek yang membuatku terpukau. Aku meraba permukaannya untuk mencoba menyerap setiap pesan dan emosi yang berusaha disampaikan sang pelukis.
Bukannya aku seorang ahli lukisan, aku juga bukan pecinta barang seni apa pun. Pengetahuanku di bidang itu boleh dikatakan nol besar. Tetapi ini… Sulit untuk berpura-pura tidak tertarik pada objek utamanya. Seorang laki-laki yang sedang tersenyum bahagia. Aku kenal baik dengan laki-laki itu. Dia adalah Andre, kakakku, saudaraku satu-satunya. Belum pernah kulihat seorang pun berhasil membuatnya menunjukkan ekspresi seperti itu sejak orangtua kami meninggal dua tahun yang lalu. Aku melihat tanda tangan sang pelukis di sudut kiri bawah. Ada simbol hati yang dibuat secara abstrak di sana, membuatku cukup yakin apa makna dari lukisan di tanganku ini. Sang pelukis jatuh cinta pada objeknya.
Aku menatap lukisan itu lekat-lekat, nyaris tanpa berkedip dan bernapas. Warna-warni kontras cat minyak pada kanvas memberikan bentuk dari objek yang membuatku terpukau. Aku meraba permukaannya untuk mencoba menyerap setiap pesan dan emosi yang berusaha disampaikan sang pelukis.
Bukannya aku seorang ahli lukisan, aku juga bukan pecinta barang seni apa pun. Pengetahuanku di bidang itu boleh dikatakan nol besar. Tetapi ini… Sulit untuk berpura-pura tidak tertarik pada objek utamanya. Seorang laki-laki yang sedang tersenyum bahagia. Aku kenal baik dengan laki-laki itu. Dia adalah Andre, kakakku, saudaraku satu-satunya. Belum pernah kulihat seorang pun berhasil membuatnya menunjukkan ekspresi seperti itu sejak orangtua kami meninggal dua tahun yang lalu. Aku melihat tanda tangan sang pelukis di sudut kiri bawah. Ada simbol hati yang dibuat secara abstrak di sana, membuatku cukup yakin apa makna dari lukisan di tanganku ini. Sang pelukis jatuh cinta pada objeknya.
Aku menemukan lukisan itu ketika sedang membereskan ruang penyimpanan barang. Sejak orangtuaku meninggal rumahku lebih sering berada dalam keadaan berantakan daripada rapi, terutama karena kedua penghuninya adalah lelaki bujangan yang mengurus dirinya sendiri pun kadang tak sempat. Aku dan Andre, kami selalu punya banyak kesibukan. Aku dengan kuliah dan kegiatan organisasi sedangkan Andre dengan pekerjaannya sebagai pegawai bank.
Mengenai cerita tentang bagaimana dan mengapa lukisan itu ada di ruang penyimpanan rumahku, terlantar dan pasti sudah rusak jika bukan karena kertas pembungkusnya, bermula dari kejadian beberapa bulan yang lalu.
Flashback…
Hari itu langit tampak diselimuti awan mendung tebal. Gelap di sore hari seolah-olah datang satu jam lebih cepat daripada biasanya. Aku sedang berada di dalam kamar, duduk persis di depan jendela yang kubiarkan terbuka sambil membaca referensi untuk bahan membuat skripsi ketika mendengar suara mobil datang mendekat. Mobil itu pasti berhenti di dekat rumahku karena suara mesinnya menghilang bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Pada awalnya aku tidak peduli, namun ketika mendengar suara-suara ribut dari arah luar aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat kepala dan memandang penuh rasa ingin tahu.
Hari itu langit tampak diselimuti awan mendung tebal. Gelap di sore hari seolah-olah datang satu jam lebih cepat daripada biasanya. Aku sedang berada di dalam kamar, duduk persis di depan jendela yang kubiarkan terbuka sambil membaca referensi untuk bahan membuat skripsi ketika mendengar suara mobil datang mendekat. Mobil itu pasti berhenti di dekat rumahku karena suara mesinnya menghilang bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Pada awalnya aku tidak peduli, namun ketika mendengar suara-suara ribut dari arah luar aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat kepala dan memandang penuh rasa ingin tahu.
Rupanya aku punya tetangga baru. Mereka pindah persis di sebelah rumah. Dari sini aku bisa melihat dengan cukup jelas bahwa suara mobil yang kudengar tadi adalah mobil pick up hitam penuh dengan perabot rumah tangga dan tumpukan kardus-kardus. Beberapa orang dari jasa angkut sedang melepaskan tali pengikat barang dan beberapa yang lain mulai memindahkan sofa dan lemari ke dalam rumah.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesosok gadis yang mengenakan celana panjang denim dan jaket longgar berwarna navy blue. Gadis itu adalah satu-satunya perempuan yang tampak di sana. Aku menyipitkan mata, seluruh fokusku sekarang ada padanya. Aneh, ia tampak tidak asing bagiku. Di mana aku pernah melihatnya?
Aku berusaha menggali ingatanku. Wajah tirus, rambut panjang bergelombang, mata lebar…
Mendadak lampu di atas kepalaku menyala. Aku ingat siapa dia dan di mana aku melihatnya. Gadis itu adalah Arin, sahabatku semasa TK dan SD. Sungguh mengejutkan bahwa gadis itu ternyata dia. Aku heran mengapa otakku tidak bisa segera ingat ketika melihatnya lagi. Karina Rosalia, dulu aku begitu terobsesi padanya, dia adalah cinta pertamaku.
Aku berusaha menggali ingatanku. Wajah tirus, rambut panjang bergelombang, mata lebar…
Mendadak lampu di atas kepalaku menyala. Aku ingat siapa dia dan di mana aku melihatnya. Gadis itu adalah Arin, sahabatku semasa TK dan SD. Sungguh mengejutkan bahwa gadis itu ternyata dia. Aku heran mengapa otakku tidak bisa segera ingat ketika melihatnya lagi. Karina Rosalia, dulu aku begitu terobsesi padanya, dia adalah cinta pertamaku.
Sejak berpisah sepuluh tahun yang lalu, aku dan Arin memang tidak pernah lagi menjalin komunikasi. Ia pindah ke kota lain tanpa memberitahuku. Tidak ada alamat rumah yang bisa dituju, tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada ucapan selamat tinggal, benar-benar tak ada apa pun. Kami sepenuhnya putus hubungan.
Hanya Tuhan yang tahu betapa senangnya aku karena dipertemukan kembali dengan Arin. Tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali dekat dengannya. Arin benar-benar tidak banyak berubah, tetap gadis yang periang, kadang sedikit pemalu, tetapi selalu jujur apa adanya. Ia menyenangkan dan mudah diajak bercanda. Bedanya, Arin yang sekarang adalah Arin yang sudah dewasa, cantik, dan pintar.
Menghapus jeda sepuluh tahun yang hilang dari persahabatan kami, Arin banyak bercerita tentang masa SMP dan SMA-nya. Ia juga bercerita tentang ibunya yang meninggal karena sakit tak lama setelah pindahan dulu, tentang pekerjaan ayahnya, dan tentang kuliahnya di jurusan Seni Rupa. Aku pun juga bercerita padanya tentang kecelakaan pesawat yang menimpa kedua orangtuaku, tentang bagaimana Andre harus membatalkan niatnya melanjutkan S2 untuk bekerja membiayai hidup kami, dan tentang aku yang sebentar lagi menyelesaikan kuliah di jurusan Sosiologi.
Melihat Arin yang sering menghabiskan waktu bersamaku saat weekend, membuat rasa suka masa kecilku muncul kembali. Perasaan itu bertumbuh lebih kuat, lebih besar dan lebih nyata. Segera kusadari bahwa aku telah jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama.
Awalnya aku yakin hubunganku dengannya akan berhasil. Kami sudah melakukan banyak hal selama dua bulan terakhir; membaca buku bersama-sama, bertukar cerita tentang pengalaman di kampus, menonton film bertiga dengan Andre, membuat kue, bahkan kadang-kadang Arin memasak makan malam di rumahku. Seharusnya waktu itu aku tidak boleh terlalu yakin karena aku sudah melewatkan satu fakta penting: di rumah aku tidak tinggal sendirian. Aku lupa bahwa ada laki-laki lain di dekat Arin yang juga muda, single, good looking, dan mulai mapan dengan pekerjaan.
Tentu saja aku tidak pernah memperhitungkan Andre sebagai saingan. Demi Tuhan dia kakakku, satu-satunya keluarga yang aku miliki. Keberadaannya di sekitar Arin selama ini kuanggap sebagai sesuatu yang wajar. Aku berasumsi mereka saling menganggap satu sama lain sebagai teman. Saat itu aku tidak tahu, betapa kelirunya diriku.
Tentu saja aku tidak pernah memperhitungkan Andre sebagai saingan. Demi Tuhan dia kakakku, satu-satunya keluarga yang aku miliki. Keberadaannya di sekitar Arin selama ini kuanggap sebagai sesuatu yang wajar. Aku berasumsi mereka saling menganggap satu sama lain sebagai teman. Saat itu aku tidak tahu, betapa kelirunya diriku.
Aku akui sungguh naïf menganggap Arin akan melewatkan Andre begitu saja hanya karena aku mengenalnya lebih dulu. Menjadi sahabatnya sewaktu kecil tidak berarti Arin adalah milikku dan tidak bisa menyukai orang lain. Lihat betapa sombongnya aku! Beraninya aku menilai diriku setinggi itu.
Mataku terbuka lebar dan aku terbangun dari mimpi bodohku ketika suatu hari Arin mengatakan sedang membutuhkan seseorang untuk dijadikan objek lukisan. “Proyek tugas kuliah,” katanya saat itu. Aku baru saja akan menawarkan diri ketika Arin mengaku telah mencuri salah satu foto dari album keluargaku untuk keperluan itu. Ia meminta maaf dan berkata akan segera mengembalikannya ketika proyek selesai. Tebak foto siapa yang diambilnya? Ya, foto Andre.
Aku kecewa. Aku marah dan patah hati. Seharusnya jika aku cukup pintar waktu itu aku tidak akan menyalahkan siapa pun selain diriku sendiri. Tetapi aku melakukannya, aku menjauh dari sahabat dan kakakku. Perasaan ini berkali-kali lipat lebih buruk karena aku tahu sesungguhnya Andre juga menyukai Arin, hanya saja ia terlalu peduli padaku untuk mau mengakuinya.
Aku kecewa. Aku marah dan patah hati. Seharusnya jika aku cukup pintar waktu itu aku tidak akan menyalahkan siapa pun selain diriku sendiri. Tetapi aku melakukannya, aku menjauh dari sahabat dan kakakku. Perasaan ini berkali-kali lipat lebih buruk karena aku tahu sesungguhnya Andre juga menyukai Arin, hanya saja ia terlalu peduli padaku untuk mau mengakuinya.
Satu bulan berikutnya aku jarang bertemu Arin. Ia hampir tidak pernah datang lagi ke rumah untuk menghabiskan waktu bersamaku. Aku maklum, ia pasti merasakan perubahan sikapku yang semakin dingin dari waktu ke waktu. Mungkin juga dia muak karena aku menjadi terlalu sensitif soal rasa seperti wanita. Pokoknya yang aku tahu, tak lama setelah itu Arin pindah rumah lagi, tanpa kabar, tanpa pesan apa pun, persis seperti sepuluh tahun sebelumnya.
Jangan berpikir aku akan bersikap masa bodoh dengan kepergian Arin kali ini. Dulu aku tidak melakukan apa-apa karena aku hanya seorang anak SD. Tetapi sekarang aku mencoba yang terbaik untuk menunjukkan bahwa aku menyesal kami harus berpisah seperti ini. Tidak seharusnya aku mendorong Arin menjauh, mendirikan tembok pembatas di antara dua orang yang saling mencintai karena cemburu. Sungguh, aku mencarinya dengan segala cara yang kubisa, tapi menemukan jejak seseorang itu tidak mudah, terutama jika orang tersebut memang menolak untuk ditemukan.
Pertama, aku menghubungi ponselnya, hanya untuk mendapati bahwa nomornya sudah tidak aktif lagi. Kedua, aku menanyakan alamat barunya kepada para tetangga, tetapi tidak seorang pun tahu persis di mana ia tinggal sekarang. Ketiga, aku mencarinya melalui media sosial. Nihil, Arin sudah menonaktifkan akunnya. Keempat, aku mengirim pesan lewat e-mail. Walaupun aku menunggu cukup lama, tetap tidak ada jawaban.
Aku menyerah.
Aku menyerah tepat ketika Arin mengontakku melalui surat. Benar, surat di zaman teknologi modern. Benda yang dikirim melalui pos, memakai prangko, dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, ada sebuah paket barang melalui pengiriman kilat khusus yang menyertainya. Untunglah, aku memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu.
Inti daripada isi surat Arin adalah agar aku menyampaikan paket yang dikirimkannya kepada Andre. Ia tidak menyebutkan secara spesifik apa isinya, yang jelas ia mengatakan tidak punya kepercayaan diri untuk mengirimkannya secara langsung. Harus ada seseorang yang memastikan bahwa barang itu diterima dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun, dan orang yang dia pilih untuk melakukan tugas ‘mulia’ ini adalah aku.
Bisa membayangkan perasaanku?
Aku menyerah tepat ketika Arin mengontakku melalui surat. Benar, surat di zaman teknologi modern. Benda yang dikirim melalui pos, memakai prangko, dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, ada sebuah paket barang melalui pengiriman kilat khusus yang menyertainya. Untunglah, aku memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu.
Inti daripada isi surat Arin adalah agar aku menyampaikan paket yang dikirimkannya kepada Andre. Ia tidak menyebutkan secara spesifik apa isinya, yang jelas ia mengatakan tidak punya kepercayaan diri untuk mengirimkannya secara langsung. Harus ada seseorang yang memastikan bahwa barang itu diterima dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun, dan orang yang dia pilih untuk melakukan tugas ‘mulia’ ini adalah aku.
Bisa membayangkan perasaanku?
Kemarahanku muncul lagi. Apa-apaan Arin, memanfaatkanku seperti ini! Aku menatap benda yang seharusnya kuserahkan kepada Andre. Menilik dari bentuk dan ukurannya, sebenarnya tidak sulit menebak apa isinya. Sebuah lukisan, pasti itu.
Pada akhirnya, karena terbawa emosi aku menyingkirkan benda itu ke dalam ruang penyimpanan tanpa membuka bungkusnya sama sekali. Aku meletakkannya di tempat paling tersembunyi supaya Andre tidak menemukannya tanpa sengaja. Berbulan-bulan kemudian, aku lupa akan keberadaan lukisan itu. Arin juga tak pernah lagi menghubungiku sampai sekarang…
Flashback end.
Flashback end.
Aku termangu, memikirkan apa yang sudah aku lakukan pada Arin dan Andre. Apa yang sudah mereka lakukan kepadaku. Aku menatap lukisan itu sekali lagi, mencoba menilai secara objektif kejadian yang sebenarnya. Arin tidak pernah tahu aku mencintainya, ia tidak bisa disalahkan karena lebih memilih Andre. Tidak, bahkan ia tidak tahu bahwa ia punya pilihan. Jadi itu pasti salahku. Sedangkan Andre… Ia sudah berbuat banyak untukku, mengorbankan dirinya untuk bekerja padahal ia bisa saja mengambil beasiswanya dan meninggalkanku untuk meraih gelar Master di bidang Manajemen. Aku mengernyit saat menyadari bahwa aku orang yang tidak tahu terima kasih. Orang yang egois.
Sudah kuputuskan…
Aku mencari-cari tempat di ruang tamu untuk menggantung lukisan itu, kemudian pergi ke kamarku untuk mencari surat Arin yang kuletakkan entah di mana. Di amplop surat itu pasti ada alamat pengirimnya. Semoga belum terlambat untuk menyatukan mereka. Arin dan Andre, keduanya lebih berharga daripada keegoisanku. Tentu saja, mereka berhak mencoba bahagia
Aku mencari-cari tempat di ruang tamu untuk menggantung lukisan itu, kemudian pergi ke kamarku untuk mencari surat Arin yang kuletakkan entah di mana. Di amplop surat itu pasti ada alamat pengirimnya. Semoga belum terlambat untuk menyatukan mereka. Arin dan Andre, keduanya lebih berharga daripada keegoisanku. Tentu saja, mereka berhak mencoba bahagia


0 comments:
Post a Comment
No SARA dan dilarang saling menjatuhkan, hargai karya orang lain.