dewaardianata.blogspot.com

Tuesday, 24 March 2015

05:45 | by Dev_Shoot | Categories: , , | No comments
created by : Ryuzaki (alias, dia ga mau disebutin namanya dan sosmednya)
thank's for Ryuzaki, terima kasih telah ikut gabung share cerita disini :)

gomen dewaardianata.bolgspot.com


“Ohayou gozaimasu (Selamat pagi), Manami!” sapa Yumiko padaku yang baru saja selesai memarkir sepeda di parkiran depan.
Aku tersenyum pada Yumiko dan membalas sapaannya, “Ohayou gozaimasu, Yumiko!”
Sesaat Yumiko menatapku. Lalu ia berkata memujiku, “Hari ini Manami terlihat manis dengan bandana biru muda itu!”
“Ah Yumiko, bisa saja deh!” jawabku dengan wajah sedikit merah karena malu dipuji Yumiko, sahabat terdekatku yang berwajah amat cantik.
“Hahaha… begitu saja Manami sudah malu. Ayo, kita segera ke loker! Jika telat mengganti Uwabaki (sepatu khusus sekolah), kita tidak akan diizinkan Pak Daiki ikut pelajarannya,” seru Yumiko di sela-sela tawanya.
“Ayo! Kita lomba, ya. Siapa yang duluan sampai loker berarti menang dan boleh minta traktir Udon di Merogame Seimen, haha…!” teriakku yang langsung lari dengan kaki panjangku.
“Huuu…, itu sih pasti menang kamu, Manami! Tubuh tinggimu pasti bisa lari mendahuluiku. Aku tidak mau!” bantah Yumiko. Tapi, dia tetap lari juga menyusulku yang tertawa-tawa.
Aku dan Yumiko sudah bersahabat sejak satu tahun yang lalu. Kami berkenalan saat upacara penerimaan siswa baru di SMA-ku sekarang. Yumiko, gadis imut dengan wajah cantik, putih dan rambut lurus sebahu. Tubuhnya sedang dan langsing. Tubuh yang amat kuinginkan sejak dulu. Tahu kenapa? Aku, Manami Akane, gadis berusia hampir 16 tahun yang berbeda dari yang lain. Tinggi badanku melebihi anak-anak perempuan seusiaku. Rambut panjang yang kumiliki selalu dikucir dengan poni yang dijepit ke samping. Kulitku tidak putih karena sering bermain tenis di lapangan terbuka. Tak ada yang menarik dari penampilanku. Aku juga tak tahu apa kelebihanku. Ah, mungkin hanya di bidang tenis diriku ini cukup pandai dan bisa membanggakan.
Kembali pada Yumiko. Sebenarnya, jika bisa mengubah takdir aku ingin menjadi gadis secantik Yumiko. Dikagumi dan disukai banyak orang. Banyak orang? Setelah kupikir-pikir tidak juga, ya. Yumiko hanya disukai dan dikagumi oleh para kaum laki-laki saja. Kalau dari kaum perempuan sih, menurutku banyaklah yang tidak menyukai Yumiko. Mereka iri pada kecantikannya juga keanggunan dan kelembutan sifatnya. Itulah sebabnya, hanya aku yang mau bersahabat dekat dengan si cantik Yumiko.
Sekarang mulai memasuki minggu ke dua di bulan Agustus. Kyoto, masih dalam Natsu (musim panas). Beruntungnya aku bisa lahir dan besar di Kyoto karena di saat musim panas begini, masih ada bukit-bukit sejuk sebagai penawar musim panas. Di musim panas ini juga, sekolahku sering mengikuti perlombaan di bidang olahraga, terutama tenis. Aku, si gadis jangkung selalu dipilih guru untuk mewakili sekolah dalam turnamen tenis. Tak jarang, setiap habis pertandingan, aku selalu membawakan piala untuk sekolah. Para guru dan senpai (senior) bangga padaku. Aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan satu kelebihan di balik banyaknya kekuranganku.

Saturday, 21 March 2015

02:24 | by Dev_Shoot | Categories: , , | No comments
created by : @deva_awed


sahabatku cintaku dewaardianata.bolgspot.com


Pernahkah kamu merasakan hidup yang tak sebenarnya hidup? Dimana tubuhmu masih mampu berdiri tegak, dan kakimu masih menapak tanah – tapi sukma entah melayang ke mana. Detak jantungmu berdenting palsu, nadimu tak sungguhan berdenyut, darah hanya pura-pura mengalir, dan sistem pernapasan hanya menjadi teori.
Kemudian tanganmu yang senyatanya sedingin es di kutub utara, harus menyalami tangan-tangan yang berharap mendapat sambutan uluranmu. Bibir pucatmu di tuntut untuk terus tersenyum pada wajah-wajah baru yang pagi ini membuka harimu, pada – sekolah baru.

Papa memisahkanku dari orang-orang yang begitu kucintai dan mencintaiku. Papa telah menghapus separuh dari rajutan mimpiku. Tapi bagaimanapun juga jalan ini sudah terlanjur ku ambil. Aku telah memutuskan mengikutinya ke kota budaya – Surakarta.

Baiklah, aku cukup bahagia karena keputusanku membuahkan senyum manis di bibir beliau.
“Kamu belum mendapat teman?” Tanya seseorang. Suaranya sangat asing di telinga.
“Maksudmu?”
“Ya.. maksudnya… kenapa sendirian gitu di sini? Kamu murid pindahan dari Tangerang, kan?”
“Iya, benar. Aku memang pengen sendiri aja. Membaca berteman kesunyian itu lebih menyenangkan.” Jelasku.
Lelaki itu tersenyum, lalu duduk di kursi depanku.
“Tapi menurutku, kamu tidak sedingin ini sewaktu di Tangerang.” Ungkapnya.
Aku tercekat oleh komentarnya yang sangat tepat. Dia seperti memanah udara namun anak panahnya meluncur dan menancap tepat pada perut kidang emas.
“Kamu terlalu percaya diri melontarkan komentar itu.” Cetusku lalu pergi meninggalkannya.



Sore ini kuputuskan untuk beranjak dari rumah. Sebenarnya Papa melarang karena aku belum hafal daerah ini. Tapi karena kesuntukan yang menimpuk bertubi-tubi akupun nekad untuk keluar rumah. Mumpung Mama sedang reuni dengan sahabat-sahabatnya entah di mana, dan Papa tidak ada di rumah – untuk apa aku berdiam?

Thursday, 19 March 2015

15:39 | by Dev_Shoot | Categories: , | No comments
created by : @deva_awed
picturing you dewaardianata.bolgspot.com

Sulit dipercaya…
Aku menatap lukisan itu lekat-lekat, nyaris tanpa berkedip dan bernapas. Warna-warni kontras cat minyak pada kanvas memberikan bentuk dari objek yang membuatku terpukau. Aku meraba permukaannya untuk mencoba menyerap setiap pesan dan emosi yang berusaha disampaikan sang pelukis.
Bukannya aku seorang ahli lukisan, aku juga bukan pecinta barang seni apa pun. Pengetahuanku di bidang itu boleh dikatakan nol besar. Tetapi ini… Sulit untuk berpura-pura tidak tertarik pada objek utamanya. Seorang laki-laki yang sedang tersenyum bahagia. Aku kenal baik dengan laki-laki itu. Dia adalah Andre, kakakku, saudaraku satu-satunya. Belum pernah kulihat seorang pun berhasil membuatnya menunjukkan ekspresi seperti itu sejak orangtua kami meninggal dua tahun yang lalu. Aku melihat tanda tangan sang pelukis di sudut kiri bawah. Ada simbol hati yang dibuat secara abstrak di sana, membuatku cukup yakin apa makna dari lukisan di tanganku ini. Sang pelukis jatuh cinta pada objeknya.
Aku menemukan lukisan itu ketika sedang membereskan ruang penyimpanan barang. Sejak orangtuaku meninggal rumahku lebih sering berada dalam keadaan berantakan daripada rapi, terutama karena kedua penghuninya adalah lelaki bujangan yang mengurus dirinya sendiri pun kadang tak sempat. Aku dan Andre, kami selalu punya banyak kesibukan. Aku dengan kuliah dan kegiatan organisasi sedangkan Andre dengan pekerjaannya sebagai pegawai bank.
Mengenai cerita tentang bagaimana dan mengapa lukisan itu ada di ruang penyimpanan rumahku, terlantar dan pasti sudah rusak jika bukan karena kertas pembungkusnya, bermula dari kejadian beberapa bulan yang lalu.
Flashback…
Hari itu langit tampak diselimuti awan mendung tebal. Gelap di sore hari seolah-olah datang satu jam lebih cepat daripada biasanya. Aku sedang berada di dalam kamar, duduk persis di depan jendela yang kubiarkan terbuka sambil membaca referensi untuk bahan membuat skripsi ketika mendengar suara mobil datang mendekat. Mobil itu pasti berhenti di dekat rumahku karena suara mesinnya menghilang bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Pada awalnya aku tidak peduli, namun ketika mendengar suara-suara ribut dari arah luar aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat kepala dan memandang penuh rasa ingin tahu.
Rupanya aku punya tetangga baru. Mereka pindah persis di sebelah rumah. Dari sini aku bisa melihat dengan cukup jelas bahwa suara mobil yang kudengar tadi adalah mobil pick up hitam penuh dengan perabot rumah tangga dan tumpukan kardus-kardus. Beberapa orang dari jasa angkut sedang melepaskan tali pengikat barang dan beberapa yang lain mulai memindahkan sofa dan lemari ke dalam rumah.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesosok gadis yang mengenakan celana panjang denim dan jaket longgar berwarna navy blue. Gadis itu adalah satu-satunya perempuan yang tampak di sana. Aku menyipitkan mata, seluruh fokusku sekarang ada padanya. Aneh, ia tampak tidak asing bagiku. Di mana aku pernah melihatnya?
Aku berusaha menggali ingatanku. Wajah tirus, rambut panjang bergelombang, mata lebar…
Mendadak lampu di atas kepalaku menyala. Aku ingat siapa dia dan di mana aku melihatnya. Gadis itu adalah Arin, sahabatku semasa TK dan SD. Sungguh mengejutkan bahwa gadis itu ternyata dia. Aku heran mengapa otakku tidak bisa segera ingat ketika melihatnya lagi. Karina Rosalia, dulu aku begitu terobsesi padanya, dia adalah cinta pertamaku.
Sejak berpisah sepuluh tahun yang lalu, aku dan Arin memang tidak pernah lagi menjalin komunikasi. Ia pindah ke kota lain tanpa memberitahuku. Tidak ada alamat rumah yang bisa dituju, tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada ucapan selamat tinggal, benar-benar tak ada apa pun. Kami sepenuhnya putus hubungan.
Hanya Tuhan yang tahu betapa senangnya aku karena dipertemukan kembali dengan Arin. Tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali dekat dengannya. Arin benar-benar tidak banyak berubah, tetap gadis yang periang, kadang sedikit pemalu, tetapi selalu jujur apa adanya. Ia menyenangkan dan mudah diajak bercanda. Bedanya, Arin yang sekarang adalah Arin yang sudah dewasa, cantik, dan pintar.
00:58 | by Dev_Shoot | Categories: , | No comments
created by : @deva_awed
teru-teru bozu dewaardianata.bolgspot.com

Mungkin nggak, sih, boneka botak berselimut kain putih itu mampu menangkal hujan? Atau, apa ia bisa menangkal sakit hati yang gue rasakan?
“Ehem..” Pemuda bernama Ryan Alvero tersebut berdehem pelan. Sorot matanya fokus pada novel yang sedari tadi ia jadikan sebagai hiburan kecil.
-Nidya Helga- yang berada di samping Ryan memasang wajah datar, “Loe gak bosan?”
“Enggak,”
“Serius?”
“Loe kenapa, sih? Nanya mulu. Loe gak lihat gue lagi konsen?” jengkel Vero mendengar pertanyaan Nidya yang aneh baginya.
“Sorry, bro. Gue cuma sebal aja sama kondisi seperti ini.” ucap Nidya berterus terang.
Vero mengangkat sebelah alisnya,
“Jadi loe mau apa? Gue bakal turutin kemauan loe, asal gak ngerugiin gue.”
“Jalan, yuk. Loe mau, kan, nemenin gue seharian.” Nidya menaik-turunkan alisnya dan mengubah ekspesi wajahnya menjadi memelas.
Ryan menyimpan novel barunya ke dalam ransel hitam. “Loe aneh, ya. Loe ngajak gue jalan-jalan di tengah hujan, mau basah kuyup?”
“Itu udah jadi kebiasaan gue.” kedua mata Nidya menerawang ke depan. “gue suka bermain hujan. Suka tetesan air yang jatuh mengenai permukaan di sekitarnya.”
Suasana memberi jeda.
“Semua tentang hujan loe suka?” ulang Ryan lagi. Seperti ada yang mengganjal atau salah dari ucapan Nidya tadi.
Nidya mengangguk mantap, “Yaps! Memangnya kenapa? Oh, gue tahu. Pasti loe suka juga, kan? Hayo ngaku..” bidiknya.
“Gue suka? Jangan kira, ya. Gue malah benci sama hujan!” jujur pemuda di hadapan Nidya saat ini. Nidya mengerutkan dahinya.
“Ada alasannya?”
“Memangnya gue harus ngasih tahu elo?”
“Enggak, sih. Cuman heran aja.” ujar Nidya. “Ada orang yang benci sama suasana yang bikin hidup mereka itu tenang, teduh, ataupun nyaman.”
Ryan terdiam. Sebenarnya ia tidak benci, tapi hanya tidak suka. Bahkan, rasa senang yang terencana di hari sempurnanya bisa saja luntur karena hujan.
Ada apa dengan hujan, Ryan? Apakah ada sesuatu yang terselip secara bersamaan di antara datangnya rintik hujan?
Atau-
“Udah, ah. Kok bahas hujan, sih. Katanya mau jalan-jalan.” Ryan membuyarkan lamunan Nidya. Nidya tersadar kemudian tersenyum ke arahnya.
“Gue kira loe nggak mau.” Nidya menyenggol lengan Ryan pelan.
Ryan terkekeh, “Gue itu orangnya enggak konsisten. Kadang mau ini, kadang mau itu.”
“Hahaha, bilang aja labil, susah banget ngakuinnya.”
Sambil menikmati deru angin, mereka berjalan di sekitar pinggir toko yang berjajar rapi. Lampu-lampu yang terpasang di toko, mulai menerangi sudut kota yang telah ramai di waktu malam.
Nidya sesekali melihat Ryan. Kedua matanya menangkap penampilan salah satu teman lelakinya ini. Kemeja merah bermotif kotak-kotak berpadu dengan celana jeans panjang di bawahnya. Membuat Ryan terlihat lebih tampan.
Langkah mereka terhenti di depan salah satu toko. Toko tersebut memang sudah tutup, namun ada yang menarik hati mereka untuk melihat sejenak objek yang terpajang di depan pintu toko. Sebuah boneka sederhana yang dihiasi senyum tipis di wajahnya.
“Kayaknya gue pernah lihat bentuk boneka seperti itu.” ucap Nidya. Matanya fokus tertuju pada boneka yang digantung tersebut.
“Pernah dengar nama boneka Teru-Teru Bozu?” Ryan bertanya. Nidya menggeleng cepat.
“Teru-Teru Bozu adalah boneka tradisional Jepang, salah satunya itu.” lanjut Ryan dengan menjelaskannya secara singkat.
“Lalu?”
“Konon, boneka itu mampu menangkal hujan.”
“Maksud loe, bikin cuaca cerah gitu?”
Ryan mengangguk pelan, “Cuma mitos, sih.”
“Ah, gue enggak percaya!” tukas Nidya tidak mempercayai benar adanya mitos itu.
“Namanya juga mitos. Benar atau tidak, itu masih belum dapat kita ketahui.”
Nidya dan Ryan melanjutkan acara jalan-jalan mereka yang sempat terhenti. Malam semakin larut dan suasana kota Jakarta semakin ramai. Angin tanpa henti berhembus. Rintik hujan terus mengguyur.
DEGG~
Jantung Ryan seakan berhenti berdetak. Bibirnya bergetar melihat pemandangan yang membuatnya tercengang. Rasa sakit di hatinya menggerogoti seluruh tubuh lelaki ini.
Seorang gadis -yang dicintainya selama ini- tengah bersama dengan lelaki lain di kafe. Gadis itu bernama Oliv. Sedangkan lelaki di sebelahnya begitu asing di mata Ryan.
00:25 | by Dev_Shoot | Categories: , | No comments
created by : @deva_awed
SY dewaardianata.bolgspot.com

Pacar pertama bukan berarti cinta pertama. Ah, bahkan aku tak mengerti apa itu cinta.
Bel tanda masuk ujian telah berbunyi, sesaat sebelum masuk ruangan ujian, kami telah membicarakan tentang dengan siapa kami akan duduk nanti di dalam kelas. Kami, siswa baru kelas 1C akan duduk bersebelahan dengan kakak kelas 3C. Aku tak peduli, bahkan tentang mata pelajaran yang akan diujikan hari ini saja pun aku sangat tidak peduli.
Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti ujian di sekolah menengah pertamaku ini. Ku letakkan kepalaku yang terasa semakin berat di atas meja belajar kelas. Test belum dimulai pun kepalaku sudah terasa sangat berat.
Dengan kepala yang masih kuletakkan di atas meja, aku melihatmu duduk di sampingku. Kau terlihat begitu siap. Duduk dan meletakkan segala macam jenis alat tulismu yang begitu lengkap, tak seperti aku yang hanya membawa sebatang pensil, bolpoin, dan secuil penghapus. Aku tertawa dalam hati, kau pria yang lucu yang telah mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna, begitu jauh berbeda denganku.
Aku memperhatikanmu yang tak sadar jika sedang ku amati. Melihatmu menunggu guru memberikan lembaran soal yang siap untuk kau santap. Kau terlihat begitu cerdas dimataku. Sesuatu yang terlihat menarik untukku. Yang memaksa mataku untuk terus melirik ke arahmu.
Soal telah tertumpuk di hadapan kita. Siap membuat otak dan pikiranku belingsatan. Sembari menunggu bel tanda mengerjakan berbunyi, kita sama-sama memanjatkan doa kepada sang pencipta. Dari situ aku tahu, kita berbeda ajaran. Aku menundukkan kepalaku untuk berdoa memohon kepada penciptaku agar memperoleh kemudahan di hari awal aku mengikuti ujian tengah semester SMP ku. Dan kau, mengaitkan jemari kedua tanganmu untuk memohon kepada Tuhan mu atas permohonan ujian yang sudah sering kau lewatkan di sekolah ini.
Sedikit kecewa. Menyadari kenyataan, kau selangkah menjauh dari khayalanku.
Selesai berdoa, aku gadis kecil yang tak bisa diam dengan berani mananyakan namamu.
“kakak, namanya?”
“ha?” aku tahu pertanyaanku begitu tidak jelas dan ambigu mungkin, hingga kau hanya menjawab dengan sepotong pertanyaan ‘ha?’. Ah begitu lucu dirimu.
“iya, nama kakak siapa?”.
“oh, Evan”. Jawabnya sepotong lagi.
“aku Sita. Nggak Tanya ya? Ya udah”. Aku menyambung. Sengaja membuat pertanyaan dan jawaban sendiri untuk menghibur diri. Sedikit kesal dengan sikapnya yang begitu dingin. Obrolan di hari pertama yang sangat singkat. Tidak seperti teman-temanku yang lain yang telang mengobrol akrab dengan kakak kelas yang duduk di sebelahnya.
Hari pertama berakhir.
Hari ini, hari kedua ujian berlangsung. Dan aku lupa dengan namanya. Kakak kelas yang sedingin kulkas itu. Bel masuk berbunyi, kami pun segera masuk dan menempati kursi kami masing-masing.
Waktu untuk mengisi data diri pada lembar jawab milik kami. Aku berusaha melirik lembar jawab milik kakak kelas di sampingku. ‘Evan Budianto’. Yah. Akan ku ingat namanya.
Hari kedua berlalu, dan sama sekali tidak ada obrolan di antara kami berdua. Begitu pula dengan hari seterusnya.
Hari ini, hari terakhir ujian tengah semester. Betapa bahagianya diriku. Aku merasa seperti melihat cahaya surga setelah sekian lama berjalan di atas panasnya neraka. Baiklah, mungkin itu sedikit berlebihan.
Tak kuduga, saat aku tengah belingsatan mencari jawaban yang benar di antara yang benar dalam lembar soalku, sesuatu yang kuanggap sebagai keajaiban terjadi. mungkin agar pengawas tidak melihatnya jika dia sedang mengajariku, kak evan menunjukkan jawaban untukku dengan bolpoinnya.. Seketika itu aku mengalihkan pandanganku ke arah wajahnya. Dia tersenyum. Manis sekali.
Keajaiban yang kurasakan, untuk pertama kali. Aku jatuh cinta.
Bel tanda ujian berakhir berbunyi. Seharusnya aku bahagia ujian telah selesai. Namun entah mengapa, aku merasa sedikit kecewa, mengapa ujian ini memisahkan aku dengan cinta pertamaku?
Setelah ujian berakhir, aku begitu berubah. Aku begitu bersemangat untuk berangat sekolah. Mencari tempat duduk di kelas yang berdekatan dengan jendela, agar aku bisa melihat kak Evan dari kelasku, karena memang kelas 1C dan 3C berseberangan. Begini rasanya cinta. Mencari-cari alasan untuk keluar kelas agar bisa mengamatinya dari dekat. Degup jantung terasa semakin cepat, dan sulit sekali untuk mengatur napas.
Berbulan-bulan setelahya, Ujian kembali diadakan. Kelas 1C kembali dihadapkan dengan kelas 3C. Aku begitu bahagia. Bukankah aku akan duduk sebangku lagi dengan kak Evan?
Kebahagiaan itu memudar ketika aku memasuki ruangan, dan kak Evan tidak lagi duduk di sampingku, melainkan duduk di depanku. Ah masa bodoh, aku jatuh cinta.
Kutulis kata yang aku tempelkan di bagian atas sepatuku,
‘Kak Evan, boleh minta nomer handphone?’. Lalu aku julurkan kakiku ke depan, ke tempatnya duduk agar kak Evan dapat membacanya.
Beraninya aku. Jantungku seperti ingin meloncat dari rongga dadaku. Aku sesak napas, lemas.
Ujian selesai, aku terus mengamati kak Evan membenahi diri dan bersiap beranjak dari bangkunya. Sebelum pergi, dia meninggalkan secuil kertas di mejaku. Aku membukanya.
Nomor handphone kak Evan. Oh Tuhan, aku sangat jatuh cinta.
Ujian yang lainnya pun menyusul. Ujian kenaikan kelas saat ini, dan aku duduk sendiri tanpa ada kakak kelas 3C di dalam ruangan. Mereka telah lulus, dan aku mendengar kak Evan, cinta pertamaku telah diterima di salah satu sekolah menengah atas terfavorit di Indonesia. Dia terlalu cerdas.
Dia telah mundur selangkah lagi, bertambah jauh untuk ku gapai.
Dua tahun berlalu. Aku kini duduk di bangku kelas 3 SMP. Dan samapai detik ini masih terus mencari kabar tentang kak Evan. Menelusuri namanya di media sosial yang saat itu bernama ‘facebook’. Dan betapa bahagianya aku. Kutemukan namanya, dan segera aku mengirimkan pesan lewat inbox.
Entah berapa lama aku menunggu balasannya. Setidaknya balasan pesannya telah sedikit mengobati rasa rinduku selama 2 tahun terakhir tanpa kabarnya.
Masa SMPku berakhir. Aku berusaha mengejarnya ke sekolah favorit itu, namun langkahku gagal. Aku tidak lolos seleksi untuk bertemu kembali dengan cinta pertamaku.
Aku memasuki masa putih abu-abu. Menikmati masa remaja. Sedikit melupakan nama ‘Evan Budianto’. Mencoba-coba suatu hal yang disebut cinta.
00:14 | by Dev_Shoot | Categories: , | No comments
created by : @deva_awed
bukan cinta hanya suka dewaardianata.bolgspot.com


“Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa hidup itu seperti mengendarai sebuah sepeda, jika tidak di kayuh maka tidak akan berjalan, dan saat sepeda itu berjalan kita akan merasakan tanjakan dan turunan di sepanjang jalan, bahkan banyak rintangan seperti lubang jalan dan lainnya.”

Y
a seperti itulah gambaran kehidupan menurut gue, gue adalah seorang fotografer sekaligus editor  yang masih magang perlu banyak belajar, dan perlu diketahui gue adalah orang yang yang populer dikalangan banci cewek, tapi walaupun gitu tetep aja status gue single (gue pake single biar lebih terhormat, karna kata jomblo itu terlalu sakit di dengernya :D). Banyak sih temen gue yang nyaranin buat mengakhiri masa single gue, emang sih mereka bener bilang kayak gitu dan gue juga aslinya gak pengen, tapi berhubung belum ada yang cocok sama gue akhirnya gue urungkan niat buat ganti kelamin status. Ngomongin soal status gak lepas dari ngomongin soal penampilan dan fisik, Soal fisik ya..., kalau orang-orang bilang sih fisik gue bisa di bilang fisik seorang angkatan atau bisa di bilang sih tentara, tapi dalemnya rapuh banget men.. ga ada apa-apanya sama tentara, dan soal muka, di bilang jelek juga nggak, banyak yang bilang sih muka gue itu MANIS *caps lock rusak.*
                Gue ini sebenernya masih di golongkan pada manusia yang berada pada fase remaja, karna umur gue sekarang sekitar 19 tahunan (19 tahun itu remaja apa dewasa sih?). Dan selama 19 tahun ini, mulai dari pertama kali gue keluar dari perut tetangga ibu gue, hingga saat ini, saat dimana gue akan meninggalkan masa remaja gue, kehidupan gue ga luput dari yang namanya ‘CINTA’ dan ‘GALAU’.
                Ngomongin soal CINTA, pasti ga ada habisnya, ga ada ujungnya dan awalnya, banyak yang bisa dibahas tentang CINTA. Dan satu hal yang perlu kita tahu, cinta itu datengnya ga bisa ditebak, bisa kapan aja (bisa aja pas lo ke toilet, pas mau BAB terus lo jatuh cinta :3) dan dimana aja (ya di toilet contohnya :3).
                Ga bisa dipungkiri saat gue ngomongin soal cinta, pasti pikiran gue melayang-layang dan pengen balik ke masa kecil gue, masa-masa dimana gue ngerasain cinta buat yang pertama kalinya, dimana gue belum tau kalo yang gue rasain itu cinta, tapi itu adalah sebuah masa yang indah dibandingin sekarang yang harus mikir sakit hati, mikir orang-orang tercinta gue yang justru membuat gue semakin tertekan karna cinta.
                Pertama gue ngrasain cinta pertama gue, saat dimana gue masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, ya emang sih saat itu gue gatau kalo yang gue rasain itu cinta, dan saat itu yang gue tau cuman ‘SUKA’ bukan ‘CINTA’. Ya gue suka sama salah seorang temen sekelas gue, namanya Nafis. Cewek paling cantik di kelas gue (menurut gue sih paling cantik waktu itu, soalnya gue masih culun-culunnya diantara yang paling culun di kelas =,=a). Rambutnya panjang terurai, kulitnya putih, hidungnya mancung, dan yang paling buat gue klepek-klepek yaitu senyumnya yang menawan J.
                Gue akuin kata-kata gue diatas tadi kalo emang bener gue itu culun banget, seculun-culunnya orang terculun dikelas. Rambut gue di belah pinggir (pengennya sih biar kayak orang pinter, pendidikan gitu), ingus kemana-mana, dekil, dan lain-lain. Tapi kalo dilihat dari belakang sih tetep GANTENG *caps lock eror lagi*. Yang pastinya sih ga seganteng saat gue remaja (jangan komentar).
                Tiap hari gue cuman bisa ngeliatin nafis dari bangku gue di belakang, nge-stalking dia pas istirahat bahkan pas dia cabut-pun gue selalu ngikutin dia dari belakang sambil naik sepeda buntut gue, dan cemennya gue saat itu adalah gue ga beraningajak dia ngobrol atau sekedar menyapa, gue kenal dia aja gara-gara guru yang ngabsen manggil nama nafis terus dia jawab hadir, gitu doang ga pernah kenalan secara resmi (tuker-tukeran kartunama :3).
                “Hai Nafis...”
                Kalimat itu nggak pernah keluar dari mulut gue, seolah-olah kalimat itu jadi hal tabu di hidup gue. Emang banyak sih cowok-cowok yang suka juga ama si nafis ini, ya termasuk gue ini, cowok cemen ini (nunjuk temen sebelah gue). Tapi itu hal yang wajar bagi gue, secara dia kan banci cewek tercantik dikelas gue.
***
                Kalo diinget-inget dan dipikir-pikir namanya anak SD pasti labil banget kan, kalo ada hal baru yang lebih bagus pasti pandangannya tertuju ke hal itu dan ga bakal kembali ke hal yang sebelumnya. Dan gue ngalamin hal itu.
                Waktu itu di sekolah, jam istirahat. Seperti biasa, gue dan peliharaan temen-temen sekelas nongkrong di depan kelas sambil ngomongin hal-hal yang ga penting banget. Pas lagi asyik becanda, seorang cewek dari kelas A namanya iffah (dulu gue kelas 6 dibagi 2 kelas A dan kelas B) menghampiri gue. Secara gue cowok gitu, kalo di deketin atau disamperin cewek pastilah salting (soalnya belum pernah punya cewek :D) ditambah lagi sok ganteng, tapi ga kok kalo sok ganteng, gue emang ganteng (ga usah protes..).
                “Dewa  kan? Dipanggil tuh ke ruang guru ” kata iffah sambil berlagak cuek dan ga ikhlas
                “Sifat cueknya itu loh, kok sesuatu sih.., cantik juga” pikir gue
                “i..iya, emang ada apa gue di panggil?”tanya gue
                “mana gue tau, pokoknya kesana aja deh”jawab iffah sambil meninggalkan gue menjauh dan terus menjauh hingga akhirnya negara api menyerang (*ok skip)
                Rasanya jantung gue deg-degan banget pas liat wajahnya si iffah, dan saat itu pula gue panggil peta, ini peta, ini peta (*serius deh =,=a) saat itu pula gue ngambil kesimpulan kalo gue suka sama si iffah (labil banget).
***
                Ya, gue cuma suka cinta monyet. Maksudnya bukan gue cinta sama monyet-monyet yang lagi baca tulisan ga jelas ini (jangan protes) tapi perasaan gue ke nafis ama iffah itu yang cinta monyet. Cuma sekedar suka dan kagum doang. Gue Dewa yang waktu SD belum ganteng dan nggak ngerti dengan yang namanya pacaran ataupun cinta. Akhirnya Cuma bisa nyembunyiin rasa suka ini. Gue ga berani ungkapin ke dia, meskipun temen-temen gue nyuruh gue kirim surat ke dia, tapi tetep aja gue nggak berani. Secara gue nggak ngerti cinta-cintaan, jadi mending gue diem aja dan hanya menyukai dia dari kejauhan hingga lulus dari SD.

Saturday, 5 July 2014

18:46 | by Dev_Shoot | Categories: , | No comments

created by : @deva_awed
First Kiss (part 1)

FK1 dewaardianata.bolgspot.com


Setiap harapan pasti memiliki halangan yang akan meruntuhkan harapan tersebut, tapi dengan harapan dan halangan itu kita dapat belajar sebuah arti kehidupan...

                Dinginnya embun masih terasa di sekujur tubuh, bahkan hewan-hewan yang punya bulu lebat dan hangat pun enggan untuk keluar, burung-burung pun sepertinya masih enggan menyanyi dipagi ini. Kulihat jam yang ada di meja pinggir ranjangku, waktu masih mennjukkan jam 4 pagi, tapi apa daya hari ini adalah sebuah hari besar yang harus kuhadapi, awal semester yang merepotkan, mengingat hal itu segera ku langkahkan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan membersihkan diri.
                Aku Deva, Deva Rendy, seorang pelajar di sebuah SMK ternama di tempat kelahiranku, malang. Maklum aku salah satu panitia di acara MOS (Masa Orientasi Siswa), jadi aku harus menyiapkan semuanya sejak pagi buta, walaupun kegiatan pagiku ini begitu sibuk, tapi tetap kurasakan sepi di awal hari seperti ini, ya.... seseorang sepesial yang selalu menyemangati dan selalu mengucap “Selamat pagi” di salah satu pesanku tak ada di awal hari ini, atau memang tak akan pernah ada untuk hari ini dan selanjutnya.
v
                Kusingkapkan lengan seragamku, ku lihat semua orang bekerja keras untuk acara ini, perlahan keringat dari dahiku mulai mengalir,
“Hei..... Istirahat sana, biar ku ganti” kata salah satu temanku menawarkan
“oke..., semangat ya.... ” balasku menyemangatinya
                Dengan sempoyangan aku berjalan menuju tempat istirahat, tiba-tiba ada sebuah suara yang mengagetkanku,
“Kamu tau gak ini sudah jam berapa?!” bentak salah satu panitia memarahi peserta
“iya kak tau, ini udah jam 8...” sambil menundukkan kepala
                Tampak terlihat samar-samar wajah peserta malang itu, tapi tiba-tiba dia menyingkapkan rambutnya yang di ikat samping itu kebelakang, oh... tampak seorang wanita yang manis dan cantik, dengan pipi merah yang menandakan dia kewalahan...., sungguh manisnya cipta’an Tuhan ini, sejenak aku terpesona oleh sosok itu..
V
“Ahh.... Panas banget ya..” keluhku pada salah satu panitia
“Aduh masih jam 8 udah kepanasan sih lo..?” komentar panitia itu
“ih.. biarin..., bagi minumnya dong..” jawabku seraya meminta minum
“udah ya.., gua mau jaga di depan dulu ganti’in yang lainnya..” kataku seraya berlari menuju lapangan depan
                Semua peserta MOS terlihat sedang istirahat untuk kegiatan selanjutnya yaitu kegiatan baris-berbaris, padahal terik matahari saat ini sangat amat menyengat kulit.
“dev.... sini...” panggil seorang panitia
“iya bentar...” jawabku sambil berlari menuju panitia itu
“ada apa?” kataku
“lo pimpin pasukan yang ini ya buat baris-berbaris, sampai entar waktu makan lo pegang yah..?” pinta panitia itu
“beres deh” balasku
                Beberapa saat kemudian baris berbaris pun dimulai, terlihat seorang cewek manis terlambat yang tak asing bagiku berada di kelompokku...,
“oke pertama-tama perkenalkan diri dulu...” kataku
“siap kak....” kata kelompok itu yang terdiri dari 3 orang
“yap.. yang pertama, kamu tolong perkenalkan diri..”perintahku
“siap kak, nama saya Shinta Apriliani, bisa di panggil shinta..”
“lanjut...” kataku
“nama saya Putra Wisnu, biasa di panggil popon”
“lanjut, kamu yang tadi pagi telat..” sindirku pada cewek yang manis itu
“i...iya kak..., na..nama s..saya Jesica Veranda, biasa dipanggil Ve..”
Oh, ternyata nama seorang cewek manis itu Ve..., akhirnya aku tau namanya sejak hari ini dan mungkin akan berlanjut lebih akrab di hari esok..
v
Terasing dan terbuang, itulah keadaanku saat ini, hanya duduk di pojokan sebuah taman bertemankan lagu sedih yang kuputar dan kudengarkan melalui earphone , sambil melihat sebuah kolam ditengah taman yang menyemburkan air ke atas dan membuat hati terasa segar dan tentram,
“enak banget di posisi ini sambil ngeliat air mancur..” gumamku
“iya kak enak banget....”